UMAT BERAGAMA DI INDONESIA

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  • Latar Belakang

Belakangan ini, seperti yang kita ketahui di Indonesia banyak terjadi permasalan-permasalahan antar umat beragama. Hal ini di sebabkan minimnya rasa persaudaraan dan rasa memiliki dan membutuhkan antara satu dengan yang lain, antar umat beragama. Selain itu salah satu pemicu adanya pertikaiyan antar umat beragama ini adalah kurangnya rasa toleransi. Rasa toleransi sangat di perlukan di dalam kehidupan beragama, karena hal ini dapat menciptakan kedamaian antar umat beragama.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang pluralitas, bermacam-macam ras, suku, agama ada didalam masyarakat Negara ini. Dengan status Negara berkembang, maka pemerintah kadang tidak peka terhadap permasalahan-permasalahan yang menyangkut SARA ini, pemerintah lebih mengutamakan, bagaimana membuat kebijakan pemerintahan dalam mensejahterakan kehidupan rakyat dalam bidan pendidikan dan ekonami. Maka dari itu hal ini semua sudah pasti tidak lepas dari permasalahan-permasalahan yang menyangkut SARA.

Pertikaian yang terjadi belakangan ini terkadang di sebabkan oleh masalah kecil seperti masalah batas wilayah, ekonomi,politik serta kurangnya kesadaran antara masing-masing individu yang berlanjut kemasalah agama. Masalah ini sering kali mengatas namakan agama, karna  agama memiliki tirai atau pembatas yang sangat tipis dengan masalaha-masalah di atas. Sehingga sedikit saja terjadi masalah tersebut maka agama akan di ikut sertakan.

Peristiwa pertikaian tersebut mencerminkan kerapuhan anak bangsa yang kehilangan identitas dan karakter dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai bangsa yang pluraris dan patuh terhadap hukum, memang kekerasan dengan alasan apapun tidak dibenarkan didalam bangsa ini, lalu apa faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Padahal agama manapun tidak mengajarkan kekerasan dengan alasan apapun.Dalam pandangan kaum sosiolog, agama lebih lanjut dibuktikan memiliki fungsi yang amat penting. Dalam hubungan ini, paling kurang ada enam fungsi agama bagi kehidupan masyarakat.

Dengan adanya banyak perbedaan Religi yang terdapat di Indonesia menjadikan kesukaran untuk mewujudkan umat beragama yang Rahmatan Lil Alamin. Hal tersebut dikarenakan masih belum seragamnya perlakuan pejabat daerah dan masyarakat dalam menanggapi keberadaan kelompok yang berbeda keyakinan, diskusi dan pendidikan keberagaman yang belum intensif, serta masalah komunikasi antarumat beragama yang masih renggang. Bahkan adanya draf tentang RUU Kerukunan Umat Beragama justru dinilai bermasalah. Untuk mewujudkan umat beragama yang Rahmatan lil alamin diperlukan adanya sikap saling menghormati antar umat beragama.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana hubungan antar umat beragama di Indonesia?
  2. Apa yang melatar-belakangi berbagai permasalahan yang terjadi antar umat beragama di Indonesia?
  3. Bagaimana mewujudkan umat beragama yang Rahmatan Lil Alamin di Indonesia?
    • Tujuan
  4. Untuk mengetahui hubungan antar umat beragama di Indonesia.
  5. Untuk mengetahui hal-hal yang melatarbelakangi berbagai permasalahan yang terjadi antar umat beragama di Indonesia.
  6. Untuk mengetahui perwujudanumatberagamayang Rahmatan Lil Alamin di Indonesia.
    • Manfaat
  7. Dapatmemahamitoleransi hubungan antar umat beragama di Indonesia.
  8. Dapatmemahamihal-hal yang melatarbelakangi berbagai permasalahan yang terjadi antar umat beragama di Indonesia.
  9. Dapat mempererat kerukunan sesama umat beragama sertamewujudkan umatberagamayang Rahmatan Lil Alamin di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Orang-orang liberalismengatakan bahwa Rahmatan lil ‘alamin adalah berkasih sayang dengan orang kafir. Padahal ayat yang menyebutkan Rahmatan lil ‘alamin ini sama sekali tidak anjuran untuk perintah berkasih sayang kepada orang kafir. Bahkan telah dijelaskan oleh para ahli tafsir, bahwa bentuk rahmat Allah bagi orang kafir dalam ayat ini adalah dengan tidak ditimpa musibah besar yang menimpa umat terdahulu.

Rahmatan lil ‘alamin adalah berkasih sayang dalam kemungkaran dan penyimpangan agama. Sebagian kaum muslimin membiarkan berbagai maksiat dan penyimpangan agama serta enggan menasehati dan mendakwahi mereka karena khawatir para pelakunya tersinggung hatinya jika dinasehati, kemudian ia berkata : “Islam kan Rahmatan lil’alamin, penuh kasih sayang”. Dan sungguh ini adalah perkataan yang sangat aneh.

Jika kita juga merasa cinta dan sayang kepada saudara kita yang melakukan maksiat, sepatutnya kita menasehatinya dan mengingkari maksiat yang dilakukannya dan mengarahkannya untuk melakukan amal kebaikan. dan inilah bentuk Rahmatan lil ‘alamin yang sebenarnya.Pasal 25 ayat 3 yang berbunyi dalam pendirian rumah ibadah, kepala daerah harus meminta pendapat organisasi keagamaan dan pemuka agama.Kebebasan memeluk dan menjalankan agama sebenarnya sudah diatur dalam UUD 1945 dalam pasal 29 ayat 2, yaitu : “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu

  1. Kebijakan Pembinaan Umat Beragama
  2. Penetapan Presiden RI Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.
  3. Penjelasan atas Penetapan Presiden RI Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.
  4. Penetapan Presiden RI Nomor 4 Tahun 1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-barang Cetakan yang Isinya dapat Mengganggu Ketertiban Umum.
  5. Instruksi Presiden RI Nomor 14 tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat Istiadat Cina.
  6. Petunju Presiden sehubungan dengan Surat Edaran Menteri Agama Nomor A/432/1981.
  7. Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 01/BER/Mdn-Mag/1969 tentang Pelaksanaan Tugas Aparatur Pemerintahan dalam Menjamin Ketertiban dan Kelancaran Pelaksanaan Pengembangan dan Ibadat Agama oleh Pemeluk-pemeluknya.
  8. Instruksi Menteri Agama RI Nomor 3 Tahun 1995 tentang Tindak lanjut Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 01/BER/MDN-MAG/1969 di Daerah.
  9. Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 70 Tahun 1978 tentang Pedoman Penyiaran Agama.
  10. Keputusan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1979 tentang Tatacara Pelaksanaan Penyiaran Agama dan Bantuan Luar Negeri kepada Lembaga Keagamaan di Indonesia.
  11. Keputusan Menteri Agama Nomor 35 Tahun 1980 tentang Wadah Musyawarah Antar Umat Beragama.
  12. Keputusan Pertemuan Lengkap wadah Musyawarah Antar Umat Beragama tentang Penjelasan Atas Pasal 3, 4 dan 6 serta pembetulan Susunan Penandatanganan Pedoman Dasar Wadah Musyawarah Antar Umat Beragama.
  13. Instruksi Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1981 tentang Pelaksanaan Pembinaan Kerukunan Hidup Umat Beragama di Daerah Sehubungan dengan Telah Terbentuknya Wadah Musyawarah antar Umat Beragama.
  14. Keputusan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor : Kep-108/J.A/5/1984 tentang Pembentukan Team Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat.
  15. Surat Kawat Menteri Dalam Negeri Nomor 264/KWT/DITPUM/DV/V/75 perihal Penggunaan Rumah Tempat Tinggal sebagai Gereja.
  16. Surat Kawat Menteri Dalam Negeri Nomor 933/KWT/SOSPOL/DV/XI/75 perihal Penjelasan terhadap Surat Kawat Menteri dalam Negeri Nomor 264/KWT/DITPUM/DV/V/75 tanggal 28 Nopember 1975.
  17. Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 455.2-360 tentang Penataan Klenteng.
  18. Instruksi Menteri Agama Nomor 4 Tahun 1978 tentang Kebijaksanaan Mengenai Aliran-aliran Kepercayaan.
  19. Instruksi Menteri Agama Nomor 8 Tahun 1979 tentang Pembinaan, Bimbingan dan Pengawasan terhadap Organisasi dan Aliran dalam Islam yang Bertentangan dengan Ajaran Islam.
  20. Surat Edaran Menteri Agama Nomor MA/432/1981 tentang Penyelenggaraan Hari-hari Besar Keagamaan.
  21. Keputusan Pertemuan Lengkap Wadah Musyawarah Antar Umat Beragama tentang Peringatan Hari-hari Besar Keagamaan.
  22. Instruksi Direktur Jenderal Bimas Islam Nomor Kep/D/101/78 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Mushalla.
  23. Keputusan Menteri Agama RI Nomor 84 Tahun 1996 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penanggulangan Kerukunan Hidup Umat Beragama.
  24. Keputusan Menteri Agama RI Nomor 473 Tahun 2003 tentang Petunjuk Pelaksanaan
    Penanggulangan Kerawanan Kerukunan Hidup Umat Beragama.
  25. Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 dan 9 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Antar Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadat.
  1. Tri Kerukunan Umat Beragama

Menyadari fakta kemajemukan Indonesia itu, pemerintah telah mencanangkan konsep Tri Kerukunan Umat Beragama di Indonesia pada era tahun 1970-an. Tri Kerukunan Umat Beragama tersebut ialah kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama, dan kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah.

Tujuan utama dicanangkannya Tri Kerukunan Umat Beragama di Indonesia adalah agar masyarakat Indonesia bisa hidup dalam kebersamaan, sekalipun banyak perbedaan. Konsep ini dirumuskan dengan teliti dan bijak agar tidak terjadi pengekangan atau pengurangan hak-hak manusia dalam menjalankan kewajiban dari ajaran-ajaran agama yang diyakininya. Pada gilirannya, dengan terciptanya tri kerukunan itu akan lebih memantapkan stabilitas nasional dan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Pertama: kerukunan intern umat beragama perbedaan pandangan dalam satu agama bisa melahirkan konflik di dalam tubuh suatu agama itu sendiri. Perbedaan mazhab adalah salah satu perbedaan yang nampak nyata. Kemudian lahir pula perbedaan ormas keagamaan. Walaupun satu aqidah, misalnya Islam-perbedaan sumber penafsiran, penghayatan, kajian, pendekatan terhadap Al-Quran dan Assunnah terbukti mampu mendisharmoniskan intern umat beragama.

Undang Undang Dasar 1945 bab IX Pasal 19 Ayat (1) menyiratkan bahwa agama dan syariat agama dihormati dan didudukkan dalam nilai asasi kehidupan bangsa dan negara. Dan setiap pemeluk agama bebas menganut agamnya dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.

Bangsa Indonesia sejak dahulu kala dikenal sebagai bangsa yang religius, atau tepatnya sebagai bangsa yang beriman kepada tuhan, meski pengamalan syariat agama dalam kehidupan sehari-hari belum intensif, namun dalam praktek kehidupan sosial dan kenegaraan sulit dipisahkan dari pengaruh nilai-nilai dan nornma keagamaan. Bahkan, dalam rangka dalam rangka suksesnya pembangunan nasional dalam sektor agama termasuk salah satu modal dasar, yakni modal rohaniah dan mental.

Pada buku Pedoman Dasar Kehidupan Beragama tahun 1985-1986 Bab IV halaman 49 disebutkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Kerukunan hidup beragama adalah proses yang dinamis yang berlangsung sejalan dengan pertumbuhan masyarakat itu sendiri
  2. Pembinaan kerukunan hidup beragama adalah upaya yang dilaksanakan secara sadar, berencana, terarah, teratur, dan bertanggung jawab untuk meningkatkan kerukunan hidup beragama dengan:
  3. menanamkan pengertian akan nilai kehidupan bermasyarakat yang mampu mendukung kerukunan hidup beragama.
  4. mengusahakan lingkungan dan keadaan yang mampu menunjang sikap dan tingkahlaku yang mengarah kepadakerukunan hidup beragama.
  5. menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan tingkah laku yang mewujudkan kerukunan hidup beragama.
  6. Kondisi umat beragama di Indonesia. Pelaksanaan pembinaan kerukunan hidup beragama dimaksudkan agar umat beragama mampu menjadi subjek pembangunan yang bertanggung jawab, khususnya pembinaan kerukunan hidup beragama.

Umat beragama Indonesia mempunyai kondisi yang positif untuk terus dikembangkan, yaitu:

  1. ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
  2. kepercayaan kepada kehidupan di hari kemudian
  3. memandang sesuatu selalu melihat dua aspek, yaitu aspek dunia dan akhirat
  4. kesediaan untuk hidup sederhana dan berkorban
  5. senantiasa memegang teguh pendirian yang berkaitan dengan aqidah agama

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

3.1 hHHHHHHHHHhhhhhhaiiiii Hubungan Antar Umat Beragama Di Indonesia

Di Indonesia terdiri dari banyak daerah, meskipun daerah-daerah tersebut menyepakati untuk berdirinya negara, namun mereka masih memiliki hak berpendapat yang berbeda-beda (demokratis) sehingga menimbulkan keberagaman (pluralitas). Masyarakat majemuk memiliki sub struktur dengan ciri yang sangat beragam. Indonesia memiliki keanekaragaman dalam suku, agama, ras dan antar golongan. Agar dapat melangsungkan kehidupanya individu – individu harus melakukan hubungan sosial tak kecuali bagi umat beragama di Indonesia. Di Indonesia antar umat beragama sudah tercipta adanya hubungan – hubungan tersebut seperti dalam hubungan dibidang sosial umat Konghucu setelah melakukan peribadatan keagamaan memberikan sedekah kepada umat islam yang tidak mampu secara finansial.

Hubungan antar umat beragama dalam bidang politik sudah tercipta yaitu pada pemilihan umum gubernur jakarta untuk periode tahun 2012-2017 diketahui bahwa calon wakil gubernur Jakarta Ahok beragama Katolik. Meskipun warga Jakarta mayoritas beragama Islam namun warganya sudah mampu memilah antara agama dan politik dalam berdemokrasi dengan terbukti suara mayoritas warga Jakarta dalam pemilukada berpihak pada pasangan Joko Widodo dan Ahok.Hubungan yang tercipta antar umat beragama di Indonesia sudah dalam suasana yang damai lebih baik daripada dekade tahun yang lalu. Konflik agama seperti yang terjadi di Ambon antara umat Kristen dan Islam belakangan ini sudah mulai tidak muncul lagi selain itu, khususnya di Jawa hubungan antar umat beragama sudah dalam suasana yang damai dan lebih dinamis karena masyarakat Jawa sudah memiliki tingkat pendidikan yang maju.

 

3.2 Latar Belakang Munculnya Masalah yang Terjadi Antar Umat Beragama Di Indonesia

Agama berkaitan erat dengan kepercayaan dan merupakan hal yang privasi bagi setiap individu. Agama merupakan masalah yang sangat sensitif bagi suatu bangsa, karena agama merupakan identitas suci dibandingkan identitas sosial lainnya.

Di Indonesia telah memahami dan menjunjung tinggi pluralisme agama, hal ini dapat kita ketahui dari deprivatisasi agama oleh masyarakat Indonesia, namun pluralisme yang ada ini tidak akan berjalan dengan maksimal apabila tidak dibarengi oleh toleransi. Dengan demikian, adanya pluralisme antar agama ataupun pemeluk-pemeluk agama akan bermakna jika tiap individu memiliki toleransi. Toleransi memegang peranan yang penting dalam kehidupan bermasyarakat, utamanya jika di masyarakat berkembang banyak agama. Toleransi merupakan suatu sikap tenggang rasa dan saling menghormati yang harus dijunjung tinggi jika ingin hidup dalam suatu kedamaian dan saling berdampingan. Toleransi dibedakan menjadi dua macam, yakni toleransi negatif dan toleransi positif. Toleransi negatif merupakan sikap individu untuk membiarkan individu lain yang berbeda keyakinan untuk melakukan sesuatu yang diyakini individu tersebut. Sedangkan toleransi positif merupakan sikapsaling ketergantungan antar kelompok lain, hal tersebut dikarenakan mereka membutuhkan sebuah bantuan dan dukungan. Yang perlu diperhatiakan dalam hal ini adalah objek dari toleransi harus bisa memberi teladan secara moral dan sesuatu yang bersifat permanen.

Realitanya, toleransi yang ada dalam masyarakatr belum berjalan dengan baik. Hal tersebut dapat dilihat dari masih banyaknya konflik yang terjadi karena pluralisme agama, misalnya konflik yang terjadi di Cikeusik Banten dan Ambon. Konflik tersebut dapat timbul karena beberapa hal diantaranya :

  1. Perbedaan Doktrin dan Sikap Mental

Semua pihak umat beragama yang sedang terlibat dalam bentrokan masing-masing menyadari bahwa justru perbedaan doktrin itulah yang menjadi penyebab dari benturan itu. Entah sadar atau tidak, setiap pihak mempunyai gambaran tentang ajaran agamanya, membandingkan dengan ajaran agama lawan, memberikan penilaian atas agama sendiri dan agama lawannya. Dalam skala penilaian yang dibuat (subyektif) nilai tertinggi selalu diberikan kepada agamanya sendiri dan agama sendiri selalu dijadikan kelompok patokan, sedangkan lawan dinilai menurut patokan itu.

Agama Islam dan Kristen di Indonesia, merupakan agama samawi (revealed religion), yang meyakini terbentuk dari wahyu Ilahi Karena itu memiliki rasa superior, sebagai agama yang berasal dari Tuhan. Di beberapa tempat terjadinya kerusuhan kelompok masyarakat Islam dari aliran sunni atau santri. Bagi golongan sunni, memandang Islam dalam keterkaitan dengan keanggotaan dalam umat, dengan demikian Islam adalah juga hukum dan politik di samping agama. Islam sebagai hubungan pribadi lebih dalam artian pemberlakuan hukum dan oleh sebab itu hubungan pribadi itu tidak boleh mengurangi solidaritas umat, sebagai masyarakat terbaik di hadapan Allah. Dan mereka masih berpikir tentang pembentukan negara dan masyarakat Islam di Indonesia. Kelompok ini begitu agresif, kurang toleran dan terkadang fanatik dan malah menganut garis keras.

  1. Perbedaan Suku dan Ras Pemeluk Agama

Tidak dapat dipungkiri bahwa perbedaan ras dan agama memperlebar jurang permusuhan antar bangsa. Perbedaan suku dan ras ditambah dengan perbedaan agama menjadi penyebab lebih kuat untuk menimbulkan perpecahan antar kelompok dalam masyarakat.

  1. Perbedaan Tingkat Kebudayaan

Agama sebagai bagian dari budaya bangsa manusia. Kenyataan membuktikan perbedaan budaya berbagai bangsa di dunia tidak sama. Secara sederhana dapat dibedakan dua kategori budaya dalam masyarakat, yakni budaya tradisional dan budaya modern.Perbedaan budaya dalam kelompok masyarakat yang berbeda agama di suatu tempat atau daerah ternyata sebagai faktor pendorong yang ikut mempengaruhi terciptanya konflik antar kelompok agama di Indonesia.

  1. Masalah Mayoritas da Minoritas Golongan Agama

Fenomena konflik sosial mempunyai aneka penyebab. Tetapi dalam masyarakat agama pluralitas penyebab terdekat adalah masalah mayoritas dan minoritas golongan agama. Di berbagai tempat terjadinya konflik, massa yang mengamuk adalah beragama Islam sebagai kelompok mayoritas; sedangkan kelompok yang ditekan dan mengalami kerugian fisik dan mental adalah orang Kristen yang minoritas di Indonesia. Sehingga nampak kelompok Islam yang mayoritas merasa berkuasa atas daerah yang didiami lebih dari kelompok minoritas yakni orang Kristen. Karena itu, di beberapa tempat orang Kristen sebagai kelompok minoritas sering mengalami kerugian fisik, seperti: pengrusakan dan pembakaran gedung-gedung ibadat.

  • Cara Mewujudkan Umat Beragamayang Rahmatan Lil Alamin di Indonesia.

Setiap negara di dunia memiliki keunikan tersendiri dalam membina dan memelihara kerukunan umat beragama, tak terkecuali Indonesia. Keunikan tersebut terjadi karena bermacam-macam faktor seperti sejarah, politik, sosial, budaya/etnis, geografi, demografi, pendidikan, ekonomi, serta faktor keragaman agama itu sendiri. Di Indonesia sendiri, sejak zaman pra-sejarah sudah berkembang berbagai agama dan kepercayaan, baik agama asli seperti animisme, dinamisme, maupun agama impor yang dibawa oleh pendatang dari Barat maupun Timur. Agama-agama ini dibawa melalui jalur perdagangan, politik imperialisme, dan misi agama (gold, glory, and gospel).

Semenjak itulah agama-agama yang ada di Indonesia terus berkembang dan diikuti oleh semakin bertambahnya jumlah para pemeluk, hingga saat ini tak kurang ada enam agama resmi yang diakui oleh negara yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghuchu, ditambah dengan bermacam-macam aliran/sekte lainnya. Meskipun demikian situasi kerukunan umat beragama di Indonesia relatif terpelihara dengan baik.Kerukunan dalam umat beragama semakin berkurang seiring dengan kemajuan peradaban,sumua itu tidak lain dikarenakan pergeseran atau perubahan nilai-nilai dalam masyarakat. Kerukunan hidup beragama adalah keharmonisan hubungan dalam dinamika pergaulan dan kehidupan bermasyarakat yang saling menguatkan dan diikat oleh sikap pengendali diri dalam wujud:

  1. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya.
  2. Saling hormat menghormati dan bekerja sama intem pemeluk agama, antara berbagai golongan agama dan antara umatumat beragama dengan pemerintah yang sama-sama beitanggung jawab membangun bangsa dan negara.
  3. Saling tenggang rasa dengan tidak memaksakan agama kepada orang lain.

Dalam rangka inilah Pemerintah melalui Departeman agama bertugas membina, mem-bimbing rakyat untuk beragama guna menjalankan agamanya, sesuai dengan salah satu tugas pokok Dapertemen Agama, yaitu memelihara dan melaksanakan falsafah negara pancasila dengan jalan membina, memelihara dan melayani rakyat agar menjadi bangsa Indonesia yang beragama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

  • Kesimpulan

Semua agama itu mengajarkan kebaikan, tidakkah ada satupun agama yang megajak pada keburukan. Meskipun berbeda-beda dalam pemaknaan terhadap tiap ritual atau ibadah tapi pada intinya semua agama mengajak pada kebaikan dan menuntun para pengikutnya untuk berbuat baik sesuai konsep rahmatallilalamin atau uilai-nilai universal. Namun pada pelaksanaannya kadang individu-individu tertentu ataupun suatu kelompok menyalahgunakan suatu kepentingan sehingga marak muncul sebuah kasus yang mengatasnamakan suatu agama.

Keberagaman yang ada di Indonesia dilihat secara horizontal dimana banyak suku, agama, ras, budaya, etnis ini rentan terhadap penyelewengan dan tindakan tak bertanggung jawab yang kadangkala sering mengatasnamakan agama, hal tersebut disebabkan minimnya rasa persaudaraan dan rasa memiliki serta membutuhkan antara satu dengan yang lain. Dengan demikian pemahaman akan keberagaman dan nilai-nilai yang bersifat universal perlu dipupuk dan dibina agar tercipta tatanan kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis sehingga tercipta rahmatalllilalamin di Indonesia.

4.2 Saran

Dengan adanya banyak perbedaan Religi yang terdapat di Indonesia menjadikan kesukaran untuk mewujudkan umat beragama yang Rahmatan Lil Alamin. Hal tersebut dikarenakan masih belum seragamnya perlakuan pejabat daerah dan masyarakat dalam menanggapi keberadaan kelompok yang berbeda keyakinan. Oleh karena itu sebagai umat manusia sebaiknya menjadi manusia yang rahmatan lil alamin. Diskusi dan pendidikan keberagaman perlu ditingkatkan dan intensif, serta masalah komunikasi antarumat beragama maka perlu adanya peningkatan agar tidak ada kesalahan komunikasi antar umat beragama.

Untuk mewujudkan itu semua diperlukan adanya sikap saling menghormati antar umat beragama. Dengan demikian pemahaman akan keberagaman dan nilai-nilai yang bersifat universal perlu dipupuk dan dibina agar tercipta tatanan kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis sehingga tercipta rahmatanllilalamin di Indonesia.

This entry was posted in Olahraga. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s