PARADIGMA SOSIAL

PARADIGMA SOSIAL

Paradigma adalah pandangan yang mendasar dari ilmuan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan. Jadi paradigma adalah suatu sudut pandang dimana kita melihat suatu fenomena ataupun fakta atau sesuatu yang menjadi subyek dari ilmu. Menurut Agust Comte pada tahun 1798-1857 adalah semuanya berasal dari Tuhan. Tahapannya yaitu teologis ( pola pikir yang berasal dari alam ataupun seorang pemimpin, dalam artian dari tuhan atau sang pencipta) , metafisika (sebab-akibat), dan positivisme (harus bisa dibuktikan). Terjadi perbedaan antar komunitas dalam suatu cabang ilmu, khususnya dalam sosiologi, George Ritzer mengungkapkan tiga faktor, yaitu karena dari semula pandangan filsafat yang mendasari pemikiran ilmuan tentang apa yang semestinya menjadi substansi itu berbeda, sebagai konsekuensi logis dari pandangan filsafat yang berbeda itu maka teori-teori yang dibangun dan dikembangkan oleh masing-masing komunitas itu berbeda, metode yang dipergunakan untuk memahami substansi ilmu itu juga sangat berbeda.
Sosiologi adalah ilmu yang berparadigma ganda, yaitu paradigma fakta sosial, paradigma definisi sosial, dan paradigma perilaku sosial. Paradigma fakta sosial, fakta adalah sesuatu yang diluar diri kita yang mampu memaksa kita untuk melakukan sesuatu. Contohnya yaitu kelas, ketika siswa masuk ke dalam kelas maka dengan otomatis siswa tersebut akan duduk di kursi siswa. Fakta sosial adalah melihat sesuatu yang bersifat umum atau biasa disebut dengan generalisasi. Sedangkan paradigma fakta sosial adalah paradigma yang menjadi kajian obyek persoalan berupa fakta sosial. Menurut Emile Dhurkheim, masyarakat itu untuk mengontrol individu. Individu itu harus beradaptasi dengan struktur sehingga menyebabkan individu tidak bisa eksis, yang terjadi adalah kelompok yang akan menang. Jadi orang atau individu itu harus dipaksa terlebih dahulu sehingga akan muncul suatu kesadaran. Misalnya adanya norma dan aturan.
Paradigma fakta sosial merupakan struktur sosial dan pranata sosial. Dalam sosiologi modern pranata sosial cenderung dipandang sebagai antar hubungan norma-norma dan nilai-nilai yang mengitari aktivitas manusia atau kedua masalahnya. Contohnya yaitu dalam keluarga, pemerintahan, dan agama. Sedangkan jaringan hubungan sosial dimana interaksi sosial berproses dan menjadi terorganisir serta melalui mana posisi-posisi sosial dari setiap individu dan kelompok yang dibedakan, yang biasanya disebut dengan struktur sosial. Paradigma fakta sosial menekankan bahwa fakta sosial adalah sesuatu yang riil atau fakta. Paradigma fakta sosial membawahi dua teori yaitu, teori fungsionalisme struktural dan teori konflik. Teori fungsionalisme struktural menekankan kepada keteraturan dan mengabaikan konflik serta perubahan-perubahan dalam masyarakat. Masyarakat berada dalam kondisi statis dan bergerak dalam kondisi seimbang. Teori konflik dibangun untuk menentang secara langsung teori fungsionalisme struktural. Masyarakat tersebut berada dalam perubahan yang ditandai oleh pertentangan yang terus-menerus diantara unsur-unsurnya.
Paradigma definisi sosial, definisi sosial adalah suatu tindakan sosial yang memaknai suatu tindakan (dengan tuntutan dari luar diri) individu tersebut kemudian diarahkan kepada orang lain. Dalam artian definisi sosial itu tidak memaksa individu tersebut, tetapi orang bertindak itu harus dipaksa dan itulah yang dinamakan dengan aturan. Setiap orang bisa berbeda dalam memaknai sesuatu hal tetapi tindakanya sama. hal ini dapat dilihat dari bagaimana individu memakanai lingkunganya, dengan berfikir positivistik. Yang dilihat individu adalah hal-hal yang khusus. Contohnya yaitu biasanya dalam melakukan penelitian guru ppkn yang menjadi teladan. Kata teladan merupakan pengkhususan. Jadi yang menjadi guru teladan itu tidak semua guru ppkn, tetapi hanya beberapa saja. Paradigma definisi sosial merupakan paradigma yang tidak memisahkan dengan tegas struktur dan pranata sosial secara tegas. Pokok persoalan yang dibahas dari paradigma ini adalah sosiologi sebagai studi tentang tindakan sosial antar hubungan sosial.
Terdapat tiga teori yang masuk kedalam paradigma ini yaitu teori aksi, teori interactionisme, dan fenomenologi. Ketiganya mempunyai persamaan pandangan bahwa manusia adalah aktor yang kreatif dari realitas sosial, dan realitas sosial bukan merupakan alat yang statis yang dipaksakan sepenuhnya oleh fakta sosial tidak sepenuhnya ditentukan oleh norma-norma dan nilai yang ada dalam masyarakat. Paradigma definisi sosial ini sangat menekankan hakekat kenyataan sosial yang bersifat subyektif lebih daripada eksistensinya yang terlepas dari individu-individu. Paradigma definisi sosial membawahi empat teori, yaitu teori interaksionime simbolik, dramaturgi, fenomenologi dan ethometodologi. Proses individu dan lingkungannya disebut dengan tindakan yang tidak serta-merta memaksa, tergantung individu memaknai tersebut. berpikir positivistik merupakan berparadigma fisik yang melihat manusia berparadigma fisik yaitu quantitatif. Berpikir positivistik merupakan suatu tindakan dan khusus (tidak membutuhkan sampel dan tidak generalisasi).
Paradigma perilaku sosial, adalah paradigma yang memusatkan perhatian kepada hubungan antara individu dan lingkungannya. Lingkungan tersebut terdiri dari, bermacam-macam obyek sosial dan bermacam-macam obyek non-sosial. Tingkah laku individu yang berlangsung dalam hubungannya dengan faktor lingkungan yang menghasilkan akibat-akibat sehingga ada hubungan antara tingkah laku dengan perubahan yang terjadi dalam lingkungan. Teori yang termasuk dalam paradigma ini adalah teori behavioral sosciology mencoba menerangkan tingkah laku yang terjadi di masa sekarang melalui kemungkinan, akibatnya yaitu apa yang terjadi di masa yang akan datang. Kemudian teori exchange yang dibangun sebagai reaksi terhadap paradigma fakta sosial, terutama menyerang Emile Durkheim, selama interaksi berlangsung akan timbul fenomena yang baru. Paradigma perilaku sosial membawahi sosiologi perilaku dan teori pertukaran sosial. Paradigma perilaku sosial ini terdapat interaksi tetapi tidak mempunyai makna tersendiri, melainkan hanya ada stimulus dan respon saja. Stimulus dan respon merupakan proses timbal balik antar individu. Paradigma perilaku sosial melihat sesuatunya bisa umum dan juga bisa khusus. Dalam artian melihat individunya itu dari luar, dan lingkungan hanya merespon saja. Jadi metode yang digunakan dalan paradigma fakta sosial adalah metode quantitatif, dan metode yang digunakan dalam paradigma definisi sosial adalah metode qualitatif, sedangkan metode yang digunakan dalam paradigma perilaku sosial adalah metode quantitatif dan qualitatif.
Perbedaan diantara paradigma fakta sosial, paradigma definisi sosial, dan paradigma perilaku sosial adalah dari segi obyek studi, paradigma fakta sosial adalah sesuatu yang nyata, paradigma definisi sosial adalah tindakan seseorang, sedangkan paradigma perilaku sosial adalah tingkah laku dan perulangannya. Perbedaan dari segi keaktifan individu, paradigma fakta sosial adalah dikekang oleh norma-norma peraturan dan nilai, paradigma definisi sosial adalah aktif, tidak dikekang dan terpaksa, sedangkan paradigma perilaku sosial adalah aktif, prinsipnya menguasai hubungan antar individu dan non-sosial. Perbedaan dari segi metode penelitian, paradigma fakta sosial adalah quesioner dan interview, paradigma definisi sosial adalah observasi, sedangkan paradigma perilaku sosial adalah eksperimen. Perbedaan lain dari segi perilaku manusia deterministik (penghargaan dan hukuman), paradigma fakta sosial adalah sebagai obyek yaitu eksternal, memaksa, umum, dan riil. Paradigma definisi sosial adalah sebagai subyek yaitu internal, bebas, dan khusus. Sedangkan paradigma perilaku sosial adalah perilaku manusia yang deterministik atau penghargaan dan hukuman.
Paradigma perilaku sosial berbeda dengan paradigma definisi sosial yang dinamis dan mempunyai kekuatan kreatif didalam proses interaksi, paradigma perilaku sosial kurang memiliki kebebasan dan lebih bersifat mekanik. Sedangkan perbedaan dengan paradigma fakta sosial terdapat pada sumber pengendali tingkah laku. Akibat negatif dari para tokoh sosiologi lebih banyak menggunakan waktu dan perhatian untuk mempertahankan asumsi dasar mereka terhadap kritik dari penganut paradigma lain, daripada memusatkan penyelidikan terhadap persoalan spesifik tertentu. Kecenderungan untuk menempatkan seorang lawan sebagai usaha penganut untuk melebih-lebihkan paradigma yang dianut oleh setiap individu dan juga kecenderungan penganut lain untuk menyerang nama baik paradigma lain yang tidak dianut tersebut. Akibat positif adalah kritik yang relevan dari paradigma yang berlainan, dapat membantu seorang tokoh untuk menjernihkan pikirannya dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan tersebut. Perbedaan pendapat antar penganut paradigma dapat menjernihkan masalah yang diselidiki tersebut. kritik yang dilancarkan penganut paradigma lain juga dapat menunjukkan premis-premis paradigma lain yang dapat memberikan sumbangan berharga terhadap pemikirannya.

This entry was posted in Pendidikan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s