PERKEMBANGAN MORAL GALBARINO dan BROFENBRENNER

PERKEMBANGAN MORAL GALBARINO dan BROFENBRENNER

Pada dasarnya, tugas dasar perkembangan seorang anak adalah mengembangkan pemahaman yang benar tentang bagaimana dunia ini bekerja. Dengan kata lain, tugas utama seorang anak dalam perkembangannya adalah mempelajari ”aturan main” segala aspek yang ada di dunia ini. Selain itu, anak juga harus belajar memahami aturan main dalam hubungan kemasyarakatan, sehingga ada hukum dan sanksi yang mengatur perilaku anggota masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Garbarino & Brofenbrenner jika suatu bangsa ingin bertahan hidup, maka bangsa tersebut harus memiliki aturan-aturan yang menetapkan apa yang salah dan apa yang benar, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, apa yang adil dan apa yang tidak adil, apa yang patut dan tidak patut. Oleh karena itu, perlu ada etika dalam bicara, aturan dalam berlalu lintas, dan aturan-aturan sosial lainnya. Jika tidak, hidup ini akan ”semrawut” karena setiap orang boleh berlaku sesuai keinginannya masing-masing tanpa harus mempedulikan orang lain. Akhirnya antar sesama menjadi saling menjegal, saling menyakiti, bahkan saling membunuh, sehingga hancurlah bangsa itu.

Kebiasaan baik atau buruk pada diri seseorang – yang mengindikasikan kualitas karakter ini – tidak terjadi dengan sendirinya. Telah disebutkan bahwa selain faktor nature, faktor nurture juga berpengaruh. Anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter apabila dapat tumbuh pada lingkungan yang berkarakter, sehingga fitrah setiap anak yang dilahirkan suci dapat berkembang segara optimal. Dengan kata lain, mengembangkan generasi penerus bangsa yang berkarakter baik adalah tanggung jawab semua pihak.

Bronfenbrenner melakukan pendekatan kultur/budaya dalam teorinya, menyusun tahap orientase moral yang berbeda dengan Kohlberg. Dia memberikan lima (5) orientasi moral, yaitu :

  1. Moralitas berorientasi diri (self-oriented morality),
  2. Moralitas berorientasi otoritas (authority-oriented morality),
  3. Moralitas berorientasi rekanan (peer-oriented morality),
  4. Moralitas berorientasi kolektif (colletive-oriented morality),
  5. Moralitas berorientasi tujuan (objectively-oriented morality)

 

  1. Moralitas berorientasi diri serupa dengan tahap prakonvensional Kohlberg. Pada dasarnya, anak hanya tertarik pada pemuasan diri dan hanya memikirkan orang lain dalam batas mereka dapat membantu memberikan apa yang diinginkan atau dibutuhkannya. Tiga orientasi selanjutnya merupakan bentuk moralitas konvensional Kohlberg.
  2. Pada tahap moralitas berorientasi otoritas, anak telah menerima tokoh otoritas, baik orangtua, kepala negara, pemuka agama, atau lainnya, yang mendefinisikan apa yang baik dan yang buruk.
  3. Moralitas berorientasi rekanan pada dasarnya merupakan bentuk kepatuhan moral, di mana baik atau salah ditentukan bukan oleh otoritas, melainkan oleh teman sebaya.
  4. Moralitas berorientasi kolektif, tujuan kelompok yang dimiliki seseorang lebih penting dari kebutuhan individu.
  5. Moralitas berorientasi tujuan setara dengan tingkatan pascakonvensional Kohlberg. Tujuan menurut Bronfenbrenner, merupakan prinsip universal yang tidak tergantung pada individu atau kelompok sosial, melainkan pada realistas keseluruhan yang mereka punyai.

 

Bronfenbrenner mencatat bahwa tahap 1 ditemukan semua anak dan juga orang dewasa pada semua budaya, sementara tahap 5 hanya terdapat pada sedikit orang dewasa pada setiap budaya. Perbedaan tahap 2,3 dan 4lebih disebabkan budaya dari pada perkembangan.

 

This entry was posted in Olahraga. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s